Home Klinik Kedokteran

Obat Anti Tuberkulosis

Edisi 0.5
Oleh : dr. Asep Subarkah, S. Ked.


Pengertian

Obat anti tuberkulosis adalah kombinasi obat yang digunakan untuk penderita tuberkulosis.
Sinonim : anti TB, antituberkulosa, antituberkulosis, OAT, obat TB, obat TBC, pengobatan TB

Gambar Obat Anti Tuberkulosis

Obat Anti Tuberkulosis (klikparu.com)



Penjelasan

Obat anti tuberkulosis adalah kombinasi obat anti tuberkulosis baik yang bersifat bakterisidGambar Bakterisid maupun bakteriostatik. Hampir semua obat anti tuberkulosis bersifat bakterisid kecuali ethambutol (E). Ethambutol (E) hanya bersifat bakteriostatik sehingga masih berperan pada resistensi bakteri. Rifampisin (R) dan pirazinamid (Z) bersifat sterilisasi yang baik.
Obat anti tuberkulosis untuk penderita tuberkulosis baik tuberkulosis paru maupun tuberkulosis ekstra paru.

Komposisi

Kombinasi Untuk Dewasa


  • rifampisin (R)
    o kapsul 150 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 150 mg
  • rifampisin (R)
    o kapsul 450 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 300 mg
  • pirazinamid (Z)
    o tablet 500 mg
  • etambutol (E)
    o tablet 250 mg
    o tablet 500 mg

Kombinasi Untuk Anak


  • rifampisin (R)
    o kapsul 75 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 50 mg
  • pirazinamid (Z)
    o tablet 150 mg
  • rifampisin (R)
    o kapsul 75 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 50 mg
  • rifampisin (R)
    o kapsul 75 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 100 mg
  • pirazinamid (Z)
    o tablet 200 mg
  • rifampisin (R)
    o kapsul 75 mg
  • isoniasid (H)
    o tablet 100 mg

Jenis

  • OAT primer (lini pertama) :
    o isoniazid (H)
    o rifampisin (R)
    o pirazinamid (Z)
    o streptomisin (S)
    o etambutol (E)
  • OAT sekunder (lini kedua) :
    o amikasin
    o streptomisin
    o kanamisin
    o siprofloksasin
    o ofloksasin
    o levofloksasin
    o gatifloksasin
    o etionamid
    o protionamid
    o sikloserin
    o viomisiun
    o kapreomisin
    o klofazimin
  • OAT alternatif :
    o PAS (Para Amino Salicylic) Acid
    o tiasetazon
  • kategorii OAT jangka pendek
    o kategori 1 : 2HRZE / 4H3R3
    o kategori 2 : 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3
    o kategori 3 : 2HRZ / 4H3R3
    o obat sisipan : HRZE

Indikasi

Farmakologi

bakteriGambar Bakteri : jika bakteri tahan asam (BTA) menjadi negatif pada akhir tahap intensif maka obat anti tuberkulosis diteruskan pada tahap lanjutan; bila bakteri tahan asam (BTA) masih positif pada akhir tahap intensif maka lebih dahulu diberikan obat sisipan sebelum terapi OAT diteruskan pada tahap lanjutan.
  • obat primer tuberkulosis sangat efektif dengan efek samping yang masih bisa ditolerir; sebagian besar penderita bisa sembuh dengan obat ini
  • jika pengobatan lini pertama resisten maka berikan pengobatan lini kedua.

Tujuan


  • merubah sputum BTA (+) menjadi BTA (-) secepat mungkin melalui efek bakterisid
  • mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan efek sterilisasi
  • menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui efek perbaikan imunologis

Fase


  • fase awal intensif : selama 2 bulan, melalui efek bakterisid untuk memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat
  • fase lanjut intermitten : melalui efek sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau efek bakteriostatik pada pengobatan konvensional

Kategori 1


Kategori 1 (2HRZE / 4H3R3) untuk :
  • penderita baru tuberkulosis paru dengan hasil tes bakteri tahan asam (BTA) positif
  • penderita tuberkulosis paru dengan hasil tes bakteri tahan asam (BTA) negatif namun hasil foto rontgen positif dan sakit berat
  • penderita tuberkulosis ekstra paru berat

Kategori 2


Kategori 2 (2HRZES / HRZE / 5H3R3E3) untuk :
  • penderita tuberkulosis paru yang pernah minum obat anti tuberkulosis selama lebih 1 bulan dengan kriteria pada penderita kambuh (relaps)
  • penderita gagal pengobatan (failure) dengan bakteri tahan asam (BTA) positif
  • penderita dengan pengobatan setelah lalai

Kategori 3


Kategori 3 (2HRZ / 4H3R3) untuk :
  • penderita baru tuberkulosis paru dengan hasil bakteri tahan asam (BTA) negatif tetapi hasil foto rontgen positif dan sakit ringan
  • penderita tuberkulosis ekstra paru ringan

Obat Sisipan


Obat sisipan (HRZE) untuk :
  • penderita dengan kategori 1 & 2 pada akhir tahap intensif pengobatan dengan hasil tes bakteri tahan asam (BTA) masih positif

Posologi

  • jenis dan dosis obat TB disesuaikan dengan organ yang terinfeksi, usia (anak) & kondisi pasien (ibu hamil).
  • dosis obat anti tuberkulosis untuk anak-anak disesuaikan dengan berat badan.
  • pemberian obat anti tuberkulosis setelah menegakkan diagnosa pasti tuberkulosis.

Kategori 1


  • 2HRZE / 4H3R3
  • tahap intensif setiap hari selama 2 bulan lalu tahap lanjut 3 kali seminggu selama 4 bulan.
  • tahap intensif dengan isoniazid (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z) dan ethambutol (E).
  • tahap lanjut dengan isoniazid (H) dan rifampisin (R).

Kategori 2


  • 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3
  • tahap intensif setiap hari selama 2 bulan kemudian 1 bulan lalu tahap lanjut 3 kali seminggu selama 5 bulan.
  • tahap intensif dengan isoniazid (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z), ethambutol (E) dan suntikan streptomisin (S).
  • tahap lanjut dengan isoniazid (H), rifampisin (R) dan ethambutol (E).

Kategori 3


  • 2HRZ / 4H3R3
  • tahap intensif setiap hari selama 2 bulan lalu tahap lanjut 3 kali seminggu selama 4 bulan.
  • tahap intensif dengan isoniazid (H), rifampisin (R) dan pirazinamid (Z).
  • tahap lanjut dengan isoniazid (H) dan rifampisin (R).

Obat Sisipan


  • HRZE
  • pemberian setiap hari selama 1 bulan.
  • isoniazid (H), rifampisin (R), pirazinamid (Z) dan ethambutol (E).

Respons Klinis

  • penderita harus minum obat secara lengkap dan teratur sesuai jadwal berobat sampai dinyatakan sembuh
  • respons klinis obat anti tuberkulosis dapat terlihat dalam 4-6 minggu
  • jika tidak ada respons klinis setelah 6 minggu pengobatan anti tuberkulosis maka harus dipikirkan kemungkinan infeksi lain, infeksi tuberkulosis di tempat lain atau resistensi obat
  • pemeriksaan sputum : petugas melakukan 3 kali pemeriksaan dahak untuk mengetahui perkembangan kemajuan pengobatan yaitu pada akhir pengobatan tahap awal, sebulan sebelum akhir pengobatan dan pada akhir pengobatan.
  • penderita dinyatakan sembuh bila pada pemeriksaan ulang dahak 1 bulan sebelum akhir pengobatan dan akhir pengobatan tidak ditemukan lagi adanya kuman TB

Risiko Berobat Tidak Teratur


  • penyakit TBC tidak akan sembuh atau bahkan menjadi lebih berbahaya.
  • penderita TBC tetap dapat menularkan penyakit TB pada orang lain.
  • penyakit TBC semakin sukar diobati karena kuman TB mungkin menjadi kebal sehingga perlu obat TBC yang lebih kuat dan lebih mahal.
  • perlu waktu lebih lama untuk sembuh dari penyakit TBC.
  • penderita TBC dapat juga menularkan kuman TB yang sudah kebal obat TB pada orang lain.

Tuberkulosis Paru


tuberkulosis paruGambar Tuberkulosis Paru : [diagnosis] uji Xpert MTB / RIF bila terdeteksi mycobacterium tuberculosis positif (pemeriksaan sputum BTA) & ada riwayat minum OAT; bila Xpert rifampicin resisten maka lanjut pemeriksaan biakan mycobacterium tuberculosis dan uji kepekaan obat anti tuberkulosis lini 1 & 2.
pemeriksaan sputumGambar Pemeriksaan Sputum : [penatalaksanaan] pemberian obat anti tuberkulosis selama 6-9 bulan tergantung berat ringannya penyakit TB paru; kesembuhan TB paru ditandai oleh sputum BTA negatif, perbaikan radiologi dan menghilangnya gejala penyakit; pasien TB paru perlu menjalani pemeriksaan sputum berkala untuk melihat keberhasilan terapi selama masa pengobatan TB.
pasienGambar Pasien : [pencegahan] hindari kontak langsung dengan penderita TB paru yang mendapatkan obat anti tuberkulosis; TB paru masih dapat menular selama sekitar 2 bulan pertama pemberian OAT; infeksius menjadi berkurang setelah 2 minggu pemberian obat anti tuberkulosis yang efektif.
melibatkan keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO) hingga selesai agar penderita TB paru minum obat anti tuberkulosis secara teratur.

Resistensi Obat

  • resistensi obat anti tuberkulosis ditandai respons buruk terhadap terapi serta lesi kulit (tuberkulosis kutis) yang bertambah berat dan luas.
  • jika terjadi resistensi obat maka berikan obat anti tuberkulosis lini kedua; bila sudah kebal dengan kombinasi anti TB (lini pertama) maka risiko menerima kombinasi obat TB lebih banyak & lebih lama yang dapat mencapai 20-30 bulan.

Efek Samping

Interaksi Obat

  • dexamethasone : hendaknya disertai kemoterapi antituberkulosa secukupnya pada TBC.
  • kontrasepsi : penurunan efektivitas pil KB, KB suntik atau KB susuk.

Referensi

  1. Putu Indah Andriani. 2014. Pendekatan Klinis Infeksi Tuberkulosis pada Kulit. Cermin Dunia Kedokteran 219, Vol. 41 No. 8.
  2. Prof. DR. Dr. A. Halim Mubin, SpPD, MSc, KPTI. 2008. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam : Diagnosis dan Terapi. Edisi 2. Jakarta : EGC. Hal. 230-233.
  3. Arif Mansjoer (ed.), dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Ed. III. FKUI. Media Aesculapius. Hal. 473-474.
  4. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) 2013. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2013.
  5. dr. Pittara. 2022. TBC (Tuberkulosis). alodokter.com. Akses 14 November 2022.

ARTIKEL TERBARU


Ruam | Ruam Sekunder | Vitamin | Tuberkulosis Primer | Tuberkulosis Laten | Imunisasi BCG | Obat Anti Tuberkulosis | TB Paru Anak | Tuberkulosis | Tuberkulosis Paru |


ARTIKEL FAVORIT


Karbogliserin | Ekskoriasi | Vulnus Excoriatum | Krusta | Hemeralopi | Makrofag | Secondary Survey | Supurasi | Sistem Retikuloendotelial |


SPONSOR



A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z

Update 1/12/22